Mahasiswa KKN UPN Veteran Jatim Unjuk Inovasi dalam KKN Expo, dari Peta Desa hingga Digitalisasi UMKM

Redaksi | News
oleh

Bojonegoro.kliksurabaya.co.id – Sebanyak 175 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UPN Veteran Jawa Timur menampilkan berbagai inovasi hasil pengabdian selama satu bulan di tujuh desa di Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro. Melalui KKN Expo, tujuh kelompok KKN memaparkan program yang dikembangkan berdasarkan potensi dan aspirasi masyarakat di masing-masing desa.

Beragam inovasi yang dihasilkan mahasiswa meliputi pembuatan peta desa, pembaruan dan optimalisasi Sistem Informasi Desa (SID), budidaya magot, pengelolaan sampah, pengembangan alat pertanian, hingga penguatan UMKM.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah budidaya magot untuk pakan ayam oleh kelompok KKN Desa Pojok. Peserta KKN Desa Pojok, M Yasar Aziz, mengatakan program tersebut berangkat dari aspirasi masyarakat yang ditemui mahasiswa selama berada di lapangan.

“Selama KKN kami banyak mendengarkan aspirasi masyarakat. Salah satunya budidaya magot untuk pakan ayam. Ini juga menjadi salah satu program prioritas Bupati Bojonegoro,” ujarnya.

 

Menurut Yasar, magot dapat menjadi alternatif pakan ayam dengan harga yang lebih terjangkau. Selain memiliki kandungan nutrisi, budidayanya juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan limbah organik sehingga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai kegiatan ekonomi masyarakat.

Inovasi lainnya bergerak di bidang lingkungan. Mahasiswa membuat komposter dan mengembangkan pemilahan sampah sebagai upaya mendorong pengelolaan sampah dari tingkat desa. Ada pula pembuatan lilin aromaterapi dengan memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan utama.

Di bidang pertanian, mahasiswa mengembangkan alat penyebar pupuk jagung atau tembaring. Alat tersebut dirancang untuk membantu mempermudah proses pemupukan sehingga pekerjaan petani dapat dilakukan secara lebih praktis.

 

Mahasiswa juga mengembangkan pipa pembatas jalan yang dilengkapi stiker reflektor. Stiker tersebut dapat memantulkan cahaya ketika terkena sorotan lampu kendaraan, sehingga pipa pembatas lebih mudah terlihat oleh pengguna jalan, terutama saat kondisi gelap. Inovasi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan visibilitas dan keamanan di ruas jalan yang membutuhkan pembatas.

Sementara di bidang pemerintahan desa, mahasiswa membantu pembuatan peta desa serta melakukan pembaruan dan optimalisasi Sistem Informasi Desa (SID). Upaya tersebut diharapkan dapat membantu desa dalam mengelola dan menyajikan informasi serta data secara lebih optimal.

Potensi ekonomi lokal juga menjadi perhatian mahasiswa. Salah satunya melalui pembuatan kemasan produk ledre dan pemasaran UMKM secara digital. Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat tampilan produk sekaligus membantu pelaku UMKM memperluas jangkauan pemasaran melalui media digital.

Camat Purwosari Ike Widyaningrum mengapresiasi pelaksanaan KKN yang mendorong sinergi antara mahasiswa, kecamatan, dan pemerintah desa. Menurutnya, KKN Expo menjadi ruang untuk melihat secara langsung hasil dan inovasi yang telah dikembangkan mahasiswa selama berada di desa.

“Ini sebenarnya bentuk dari kita ingin ada sinergi bersama. Jadi antara kecamatan, desa, kemudian dengan teman-teman mahasiswa. Apabila memang ada kendala-kendala di lapangan atau yang ada di desa, harapan kami bisa terkomunikasikan,” ujarnya.

Ike berharap berbagai inovasi yang dihasilkan mahasiswa tidak berhenti pada pelaksanaan KKN. Program yang sesuai dengan kebutuhan desa diharapkan dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan KKN UPN Veteran Jawa Timur, Eka Palasuryana, mengapresiasi dukungan pemerintah kecamatan dan desa selama pelaksanaan KKN. Menurutnya, komunikasi dan monitoring selama kegiatan berjalan dengan baik.

“Alhamdulillah ini luar biasa. Selama proses KKN, komunikasi berjalan lancar. Kecamatan betul-betul melakukan monitoring, begitu juga kepala desa dan jajarannya,” ungkapnya.

Eka menyampaikan, KKN menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah secara langsung. Mahasiswa tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga mengidentifikasi kebutuhan masyarakat dan mengembangkan solusi sesuai potensi desa.

“Kalau di kampus teman-teman mendapatkan secara teoritis, tetapi di lapangan, di desa, lewat program KKN ini menjadi salah satu ruang belajar yang sangat membantu meningkatkan pembelajaran. Artinya harus betul-betul ada dampak riil untuk masyarakat,” pungkasnya.(***)